Rabu, 16 Mei 2018

Melakukan Pekerjaan Baik


“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10)

 

Bekerja adalah kodrat manusia. Allah menciptakan manusia dengan tugas menaklukkan dan menguasai dunia ini bagi Dia (Kej. 1:26). Manusia pertama, Adam mendapat tugas mengolah dan memelihara Taman Eden serta menamai binatang-binatang yang Tuhan tempatkan di sana (Kej. 2:15, 19-20).
Seberapa susah dan beratkah pekerjaan yang menjadi kewajiban manusia pertama? Pekerjaannya mungkin tidak terlalu berat karena semua masih dalam keadaan harmonis dan asri: alam bersahabat dan binatang pun jinak. Namun, tanggung jawab manusia pertama besar. Kuasa yang diberikan Allah kepadanya besar maka pertanggungjawabannya juga besar.
Setelah pasangan manusia pertama jatuh ke dalam dosa, tugas mereka tidak berubah dan pertanggungjawaban mereka tetap sama. Hanya saja sekarang pelaksanaan menjadi bertambah berat karena dunia tidak lagi harmonis. Alam menumbuhkan semak duri yang mengganggu upaya bercocok tanam. Sesama manusia tidak lagi menjadi rekan kerja yang seirama dan serasi melainkan pesaing dan penghambat karir. Kasus seperti Kain membunuh Habil dan Lamekh membunuh seseorang merupakan kasus yang berkembang seiring dengan berkembangnya masyarakat dan kebudayaan.
Setelah air bah, Allah dalam anugerah-Nya menetapkan Nuh dan keluarganya untuk membangun kembali melalui pekerjaan mereka dunia yang telah diperbarui (Kej. 9:1, 7). Mereka tetap gambar Allah yang dipanggil untuk menaklukkan dan menguasai dunia ini bagi kemuliaan Allah (Ay. 6). Bekerja adalah panggilan untuk mewujudkan hal tersebut.



Pekerjaan Menara Babel.
Dalam keberdosaannya manusia memilih untuk mengarahkan hidup mereka melawan rencana dan panggilan Allah dengan mendirikan menara Babel (Kej. 11:1-4). Kerja bagi mereka adalah sarana untuk mencapai kemandirian dan kebebasan dari Sang Pencipta mereka. Hal ini menjadi tipikal dunia bekerja sampai pada zaman sekarang. Bagi mereka keberhasilan berarti lepas diri dari otoritas Allah dan menikmati hidup ini tanpa bayang-bayang kendali dari pihak lain.
Segera kita dapat melihat bahwa semua cita-cita atau idealisme seperti itu adalah omong kosong. Pertama, Allah yang berdaulat tidak membiarkan manusia melangkah keluar dari kodratnya dan bebas dari konsekuensinya. Dalam kisah menara Babel, Allah mengintervensi upaya arogansi manusia tersebut dan mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka dipaksa untuk berpencar ke penjuru dunia (Kej. 11:8-9). Dengan demikian, mereka secara terpaksa menggenapi rencana Allah agar manusia memenuhi bumi ini.
Kedua, kenyataan mereka bisa mencapai satu titik keberhasilan tidak akan menjamin mereka akan menikmati keberhasilan itu. Itu yang dikatakan oleh Kitab Pengkhotbah. Pengalaman hidup yang dituliskan Si Pengkhotbah nyata dan jelas menunjuk kepada kesia-siaan hidup. Semua keberhasilan yang bisa dipikirkan dan yang telah dicapai oleh manusia tidak menjamin hidup menjadi berarti dan memuaskan (Pengkh. 2). Dengan kata lain kemandirian dan kebebasan dari Allah tidak membuat manusia menikmati hidup sebagaimana Allah telah menggariskannya bagi mereka. Alhasil, tujuan hidup mereka tidak tercapai.
Pekerjaan Menara Babel yang sampai masa kini tetap menjadi filosofi hidup di luar Tuhan bisa mengambil bentuk yang berbeda, namun esensinya sama. Salah satu contoh, dunia modern mengenal bekerja sebagai sarana aktualisasi diri. Manusia menemukan arti hidupnya dengan bekerja. Manusia merasa dengan bekerja ia mampu mengendalikan hidup. Ia bebas memilih pekerjaan, karir, profesi, dan sebagainya. Tidak jarang hal kerja menjadi satu-satunya aspek yang ditekuninya mati-matian dengan mengabaikan aspek-aspek lain dari kehidupannya yang sebenarnya membutuhkan perhatian. Ada pula orang lain yang memilih untuk mencengkeram sebanyak-banyaknya peran dalam hidup ini dengan alasan yang sama, yaitu mengendalikan hidup. Semua aspek kehidupan ia coba kendalikan dan taklukkan di bawah egonya yang besar. Pada dasarnya ia dikendalikan oleh perasaan tidak aman bila tidak mampu mengendalikan hidup ini. Ini salah satu jenis perbudakan yang paling menyedihkan: menyangka diri mengendalikan hidup, tetapi sebenarnya dikendalikan oleh kebutuhan mengendalikan itu sendiri!
Pekerjaan Menara Babel tidak lebih daripada perbudakan dosa. Manusia merasa harus bekerja untuk mengendalikan hidupnya. Sebenarnya kendali hidup mereka bukan pada mereka, melainkan pada kuasa dosa yang membuat manusia tidak mampu melihat ke luar dirinya dan mengenali kodratnya sebagai ciptaan; bahwa kendali hidup ada pada Allah. Itu pula yang dikatakan oleh Paulus pada perikop sebelum nas kita. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya karena kamu menaati penguasa kerajaan angkasa… di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran …jahat.” (Ef. 2:1-3). Pekerjaan Menara Babel adalah pekerjaan daging.

Pekerjaan Kristus bagi kita

Oleh rahmat-Nya kita dihidupkan kembali dari kematian rohani itu, sehingga kita menjadi manusia baru (Ef. 2:4-5). Kristus berkarya melalui kematian dan kebangkitan-Nya untuk melepaskan kita dari belenggu dosa. Dengan demikian, hidup kita tidak lagi diperbudak oleh Iblis, keinginan dunia, dan hawa nafsu kedagingan, melainkan telah menjadi milik Kristus. Demikian juga, Kristus sebagai gambar Allah yang sempurna telah meninggalkan teladan hidup, pengajaran, dan pelayanan-Nya sehingga kita memiliki panutan sempurna menjalani hidup sebagai gambar Allah yang sudah diperbarui.
Jadi, karya Kristus bagi kita bersifat memberikan kuasa hidup baru dalam diri kita untuk hidup suci dan berkenan kepada Allah, sekaligus memberikan contoh yang dapat kita terapkan tentang bagaimana menjalani hidup suci tersebut. Pekerjaan Kristus bagi kita memampukan kita menjalani hidup ini dengan melakukan perbuatan baik yang Allah rencanakan dalam hidup kita.

Pekerjaan baik orang Kristen

Penebusan Kristus bagi kita adalah dalam rangka mengembalikan kita kepada maksud dan tujuan Allah yang semula bagi manusia ciptaan-Nya. “…diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” Secara umum pekerjaan baik itu adalah menjadi representatif Allah di dalam dunia ini sebagaimana tujuan Allah menjadikan manusia sebagai gambar-Nya. Oleh karena itu, setiap anak Tuhan harus menjadikan pekerjaan baik sebagai tujuan hidupnya selama di dunia ini. Sekaligus, pekerjaan baik itu menjadi standar untuk menilai segala pekerjaan yang akan, sudah, dan sedang kita lakukan.
Bagaimana menilai pekerjaan kita berdasarkan pekerjaan baik itu? Beberapa hal yang harus diingat adalah: pertama, pekerjaan kita dinilai bukan semata-mata dari hasil akhirnya, tetapi terutama dari motivasi yang mendorongnya dan dari prosesnya. Motivasi untuk memuliakan Allah dan menyejahterakan orang lain serta proses bekerja yang sesuai dengan karakter Allah harus selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari hasil akhir yang akan dicapai (1Kor.3:5, 10-13). Hasil akhir dinilai baik bukan hanya karena prestasi kuantitatifnya tetapi juga prestasi kualitatifnya, yaitu nilai-nilai yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut.
Kedua, pekerjaan dinilai baik dari relasi-relasi yang terkait di dalamnya. Pekerjaan baik Kristus untuk manusia terjadi didorong oleh relasi Kristus kepada Allah Bapa. Kristus taat kepada Bapa untuk melaksanakan kehendak-Nya, yaitu mengurbankan diri-Nya demi menyelamatkan manusia. Akibat perbuatan baik Kristus kepada manusia, relasi manusia dengan Allah dipulihkan. Demikian juga pekerjaan kita dinilai baik dari relasi-relasi yang memotivasi pekerjaan itu (Yoh. 15:13-15) dan relasi-relasi yang kita hasilkan melaluinya. Pekerjaan yang dilakukan karena dorongan kasih, untuk kesejahteraan lebih banyak orang, didasarkan loyalitas pada pimpinan, tanggungjawab untuk menyejahterakan keluarga, dan seterusnya adalah pekerjaan baik! Demikian juga ketika pekerjaan itu menghasilkan atau memulihkan relasi-relasi di sekitar kita, misalnya para karyawan menjadi semakin senang bekerja dan bekerja sama dengan pihak pimpinan perusahaan, atau keluarga kita menjadi lebih diperhatikan daripada sebelumnya; itu adalah hasil dari pekerjaan baik kita!



Bob Buford dalam bukunya Halftime (Cipta Olah Pustaka, 2000) mengatakan ada dua masa di dalam seseorang melakukan pekerjaannya. Paruh waktu pertama ditandai dengan pengejaran kesuksesan (apa pun itu bentuknya: kekayaan, kekuasaan, kepuasan, dst.). Namun, mendekati usia separuh baya (sekitar 40-an), yaitu waktu paruhnya, orang mulai merenungkan apa yang ia sudah lakukan. Memasuki paruh waktu kedua ia mulai mencari signifikansi (keberartian) dari pekerjaannya: apa makna bekerja bagi saya; apa tujuan mulia saya bekerja; dan seterusnya.
Kita tidak perlu menunggu sampai usia menjelang 40-an untuk mencapai waktu paruh kita. Setiap kita harus dan segera merefleksikan apa yang tengah kita lakukan. Apakah kita sedang terjebak kepada tujuan hidup ‘sukses’ menurut ukuran dunia, atau kita sedang memaknai hidup sebagaimana yang Allah inginkan.

___________________________________________________________________
Oleh: Hans Wuysang
Dalam: Majalah Samaritan Edisi 2 Tahun 2005

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag